Beranda Ilmu Islam Fiqih Tata Cara Shalat Gerhana Bulan, Bacaan, Niat dan Keutamaan

Tata Cara Shalat Gerhana Bulan, Bacaan, Niat dan Keutamaan

0
sholat gerhana bulan
Gerhana bulan (Pinterest)

Shalat gerhana bulan disebut juga dengan shalat khusuf. Bagaimana tata cara, bacaan, niat dan keutamaannya? Semuanya dibahas di artikel ini, insya Allah.

Hukum Shalat Gerhana Bulan

Gerhana merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika terjadi gerhana baik gerhana matahari maupun gerhana bulan, Islam mensyariatkan shalat gerhana.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surat Fushilat ayat 37 yang artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan jangan (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan pensyariatan shalat gerhana ini dengan sabda beliau:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهَا فَافْزَعُوا لِلصَّلاَةِ

“Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua tanda kekuasaan Allah Azza wa Jalla. Terjadinya gerhana matahari atau bulan itu bukanlah karena kematian seseorang atau kehidupannya. Oleh karena itu, jika kau menyaksikan gerhana bergegaslah untuk mengerjakan shalat.” (HR. Muslim)

Dari ayat dan hadits tersebut serta hadits lainnya, para ulama menjelaskan bahwa shalat gerhana hukumnya sunnah muakkadah, yakni sunnah yang sangat dianjurkan. Ini berlaku untuk muslim laki-laki maupun perempuan (muslimah).

Tata Cara Shalat Gerhana Bulan

Shalat gerhana bulan boleh dilakukan sendiri-sendiri maupun secara berjama’ah. Jika dilaksanakan secara berjamaah, lebih utama disertai dengan khutbah. Namun tidak ada khutbah pun tetap sah.

Shalat gerhana secara berjamaah di Masjid lebih utama karena dulu Rasulullah mengerjakan shalat gerhana secara berjamaah di Masjid. Imam mengeraskan bacaannya (surat Al Fatihah dan surat lainnya) dan ada khutbah setelah shalat gerhana.

Shalat gerhana bulan dikerjakan dua rakaat, dalam setiap rakaat dua kali ruku’. Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengeraskan bacaannya saat shalat gerhana bulan, beliau shalat empat kali ruku’ dan empat kali sujud. (HR. Bukhari)

Sebelum shalat gerhana dimulai, hendaklah muadzin mengumandangkan lafadz “ash shalaatu jaami’ah.” Hal itu diterangkan Sayyid Sabiq dalam Fiqih Sunnah.

Secara ringkas, tata cara shalat gerhana bulan adalah sebagai berikut:

Muadzin menyerukan “ash sholaatuh jaami’ah”

1. Niat

2. Takbiratul Ihram

3. Membaca surat Al Fatihah dan surat lainnya. Imam disunnahkan membaca jahr.

4. Ruku’. Disunnahkan lama seperti waktu berdiri.

5. Berdiri lagi kemudian membaca Al Fatihah dan surat lainnya. Disunnahkan lebih pendek daripada sebelumnya.

6. Ruku’ lagi, dengan waktu lebih pendek dari ruku’ pertama.

7. I’tidal

8. Sujud

9. Duduk di antara dua sujud

10. Sujud kedua

11. Berdiri lagi (rakaat kedua), membaca surat Al Fatihah dan lainnya.

12. Ruku’, disunnahkan lama seperti waktu berdiri.

13. Berdiri lagi kemudian membaca Al Fatihah dan surat lainnya.

14. Ruku’ lagi.

15. I’tidal

16. Sujud

17. Duduk di antara dua sujud

18. Sujud kedua

19. Tahiyat akhir

20. Salam

Setelah selesai shalat gerhana, khatib memberikan khutbah.

Waktu Shalat Gerhana Bulan

Waktu shalat gerhana bulan terbentang sejak mulainya gerhana (bulan mulai tertutupi) hingga gerhana berakhir (bulan kembali ke kondisi semula).

Syaikh Wahbah az Zuhaili dalam Fiqih Islam wa Adillatuhu menjelaskan, jika gerhana bulan terjadi hingga pagi hari, maka waktu shalat gerhana bulan berakhir dengan terbitnya matahari. Namun ia tidak berakhir dengan terbitnya fajar.

Niat Shalat Gerhana Bulan

Seluruh ulama sepakat bahwa tempat niat adalah hati. Melafalkan niat bukanlah suatu syarat. Artinya, tidak harus melafalkan niat.

Syaikh Wahbah Az Zuhaili menjelaskan, menurut jumhur ulama selain madzhab Maliki, melafalkan niat hukumnya sunnah dalam rangka membantu hati menghadirkan niat. Namun menurut madzhab Maliki, yang terbaik adalah tidak melafalkan niat karena tidak ada contohnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Berikut ini lafazh niat shalat gerhana bulan:

Lafazh niat shalat gerhana bulan sebagai makmum

niat shalat gerhana bulan

أُصَلِّيْ سُنَّةَ الْخُسُوْفِ رَكْعَتَيْنِ مَأْمُوْمًا لِلَّهِ تَعَالَى

Usholli sunnatal khusuufi rok’ataini ma’muuman lillahi ta’aalaa

Artinya: “Aku niat shalat gerhana bulan dua rakaat sebagai makmum karena Allah Ta’ala”

Lafazh niat shalat gerhana bulan sebagai imam

niat shalat gerhana bulan sebagai imam

أُصَلِّيْ سُنَّةَ الْخُسُوْفِ رَكْعَتَيْنِ إِمَامًا لِلَّهِ تَعَالَى

Usholli sunnatal khusuufi rok’ataini imaaman lillahi ta’aalaa

Artinya: “Aku niat shalat gerhana bulan dua rakaat sebagai imam karena Allah Ta’ala”

Lafazh niat shalat gerhana bulan jika shalat sendirian

niat shalat gerhana bulan sendirian

أُصَلِّيْ سُنَّةَ الْخُسُوْفِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى

Usholli sunnatal khusuufi rok’ataini lillahi ta’aalaa

Artinya: “Aku niat shalat gerhana bulan dua rakaat karena Allah Ta’ala”

Khutbah Shalat Gerhana

Disunnahkan ada khutbah setelah shalat gerhana berjamaah. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencontohkannya dalam hadits di atas.

Isi khutbah Rasulullah adalah memuji Allah dengan puji-pujian kepadaNya, lalu beliau bersabda:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهَا فَافْزَعُوا لِلصَّلاَةِ

“Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua tanda kekuasaan Allah Azza wa Jalla. Terjadinya gerhana matahari atau bulan itu bukanlah karena kematian seseorang atau kehidupannya. Oleh karena itu, jika kau menyaksikan gerhana bergegaslah untuk mengerjakan shalat.” (HR. Muslim)

Dalam hadits yang lain beliau bersabda,

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ

“Sesungguhnya matahari dan bulan itu adalah dua tanda kekuasaan Allah. Terjadinya gerhana matahari dan bulan itu bukanlah karena kematian atau kehidupan seeorang. Maka jika engkau melihatnya, ingatlah dan berzikirlah kepada Allah” (HR. Bukhari dan Muslim)

Syaikh Wahbah Az Zuhaili menjelaskan, dalam khutbah shalat gerhana hendaknya disampaikan kepada jamaah tentang taubat dari segala dosa, berbuat kebaikan seperti sedekah, berdoa dan beristighfar.

Doa setelah Shalat Gerhana

Disunnahkan berdoa setelah shalat gerhana. Doa di waktu ini merupakan salah satu doa yang mustajabah.

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ يُخَوِّفُ بِهِمَا عِبَادَهُ وَإِنَّهُمَا لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ فَإِذَا رَأَيْتُمْ كُسُوفَ أَحَدِهِمَا فَصَلُّوا وَادْعُوا حَتَّى يَنْكَشِفَ مَا بِكُمْ

“Sesungguhnya matahari dan bulan itu adalah dua tanda kekuasaan Allah, agar hamba takut kepadaNya. Terjadinya gerhana matahari dan bulan itu bukanlah karena kematian seeorang. Maka jika engkau melihatnya, maka shalatlah dan berdoalah hingga gerhana itu tersingkap dari kalian” (HR. An Nasa’i; shahih)

Selain shalat gerhana dan berdoa, disunnahkan pula berzikir, beristighfar dan bersedekah.

Baca juga: Keutamaan Sholawat

Keutamaan Shalat Gerhana

Saat itu, putra Rasulullah yang tinggal satu-satunya wafat. Ibrahim namanya, dari rahim Bunda Mariyah Al Qibtiyah.

“Engkau menangis, wahai Rasulullah?” tanya sahabat melihat Rasulullah yang bersedih kehilangan putra yang baru berusia dua tahun itu.

“(Tangisan) ini adalah kasih sayang. Siapa yang tidak menyayangi, ia tidak disayangi,” jawab beliau seperti diketengahkan Ibnu Katsir dalam Al Fushul fi Siiratir Rasul. “Sungguh kami sedih karena kepergianmu, wahai Ibrahim. Air mata berderai dan hati bersedih, namun kami hanya mengatakan yang diridhai Allah.”

Pada hari wafatnya Ibrahim itu terjadilah gerhana matahari. Orang-orang mengaitkannya dengan kepergian putra bungsu Nabi tersebut.

“Matahari mengalami gerhana karena kematian Ibrahim,” kata mereka.

Di sinilah kita kembali melihat keteladanan agung Rasulullah. Meskipun dirundung kesedihan karena putranya wafat, beliau peka saat umat hendak salah melangkah. Keyakinan yang menghubungkan gerhana dengan kematian seseorang sama sekali tidak bisa dibenarkan. Kematian putra Nabi sekalipun.

Maka Rasulullah pun mengingatkan dalam hadits shahih riwayat Imam Muslim, “Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua tanda kekuasaan Allah Azza wa Jalla. Terjadinya gerhana matahari atau bulan itu bukanlah karena kematian seseorang atau kehidupannya.”

Beliau kemudian menganjurkan kepada umatnya saat mendapati gerhana agar mengerjakan shalat gerhana, berzikir, berdoa, beristighfar dan bersedekah.

Dari kisah ini dan pembahasan sebelumnya, shalat gerhana memiliki keutamaan menjaga aqidah dan rasa takut hanya kepada Allah. Juga berpahala besar hingga disunnahkan untuk kaum muslimin baik laki-laki maupun perempuan. Selain itu juga doa setelah shalat gerhana termasuk doa yang msutajabah.

Demikian tata cara shalat gerhana bulan, niat, dan keutamaannya. Wallahu a’lam bish shawab. [Muchlisin BK/WebMuslimah]

*Artikel serupa telah dipublikasikan di BersamaDakwah, bisa dibaca di Sholat Gerhana Bulan

Artikel sebelumnyaSebaiknya Menjanda demi Anak-Anak atau Menikah Lagi?
Artikel berikutnyaTata Cara Puasa Arafah dan Puasa Tarwiyah, Niat, Waktu, Keutamaan
CEO BedaMedia Grup, Inspirator di Trustco Gresik, Sekretaris Yayasan (Pendidikan) Al Ummah

BERIKAN TANGGAPAN

Please enter your comment!
Please enter your name here