Home Keluarga Parenting Agar Anak Suka dan Gemar Membaca

Agar Anak Suka dan Gemar Membaca

537
0
SHARE
gemar membaca
Nida dan Miqdad saat terpotret membaca di kantin Toga Mas

“Bagaimana cara membuat anak-anak gemar membaca?” Kadang pertanyaan itu dilontarkan setelah mengetahui anak-anak kami suka membaca.

Alhamdulillah, dengan izin Allah, dua anak kami memang suka membaca. Bahkan, gemar membaca. Konon, antara suka dan gemar itu memiliki level yang berbeda. Gemar itu lebih dari suka. Intensitasnya juga di atas suka.

Pernah beberapa kali ketika menjemput Miqdad yang duduk di kelas 2 SD, kami tidak menemukannya setelah beberapa kali keliling mencari. Di halaman tidak ada. Di ruang kelas tidak ada. Ternyata ia berada di perpustakaan.

Pun, kakaknya. Nida, yang saat ini kelas 8 SMP. Ia bisa menghabiskan novel setebal 700-an halaman dalam dua hari, di sela-sela kesibukannya di pondok pesantren.

1. Ajak ke toko buku, berikan yang ia suka

Salah satu cara yang bisa kita upayakan agar anak gemar membaca adalah mengajaknya ke toko buku. Kalau bisa, toko buku yang memiliki banyak koleksi. Dari beragam penerbit. Serta menyediakan buku untuk usia mereka dalam jumlah yang banyak.

Melihat beragam buku, insya Allah anak akan tertarik. Kalau pun tidak banyak, minimal ada beberapa buku yang menarik perhatiannya.

Nah, jika anak sudah tertarik pada buku-buku tertentu, berikan kebebasan ia untuk memilih. Kita sebagai orangtua cukup memfasilitasinya. Hindari memaksa anak membeli dan membaca buku tertentu. Tumbuhkan minatnya dulu.

Jika ada hal yang kurang sesuai dengan prinsip kita, tinggal diarahkan untuk memilih buku sejenis yang sesuai dengan prinsip tersebut.

Miqdad, paling suka membaca komik. Kami pun memfasilitasinya. Silahkan beli komik. Silahkan baca komik.

Jangan langsung dipaksa. “Komik itu terlalu banyak gambarnya, kamu harus beli buku!” Itu mematahkan minat baca anak. Anak-anak usia SD memang tertarik dengan gambar dan warna. Bahkan orang dewasa pun suka karena itu sesuai dengan pola otak kanan.

Kami cukup memberikan alternatif jika komik yang dipilihnya kurang tepat. Bersyukur sekarang ada komik islami seperti Al Fatih, seri pahlawan Islam, Sirah Nabawi dan lain-lain. Namun karena jumlahnya tidak banyak, banyak juga komik umum yang terbeli.

Alhamdulillah, saat ini Miqdad tidak hanya suka baca komik. Buku-buku berat pun mulai dibacanya. Beberapa kali saya lihat ia membaca buku tentang marketing dan parenting. Masih kelas 2 SD, lho.

Nida paling suka baca novel. Seluruh novel Tere Liye habis dilahabnya. Begitu terbit baru dan tersedia di toko buku, ia langsung menyambernya. Setelah karya Tere Liye sudah dibaca semua, ia membaca karya novelis lain. Bahkan sekelas Kang Abik. Ia membaca novel Ayat-Ayat Cinta 2 ke sekolah dan entah sudah pindah ke berapa tangan teman-temannya. Anak-anak SMP jaman now.

2. Sediakan perpustakaan di rumah

Hasan Al Banna mewasiatkan agar dai memiliki perpustakaan pribadi di rumahnya, sekecil apa pun. Alhamdulillah, kami memiliki perpustakaan yang cukup lengkap. Ada perpustakaan keluarga, dan ada perpustakaan anak-anak.

Dengan adanya perpustakaan di rumah, kita menciptakan suasana keilmuan dan cinta baca. Begitu melihat koleksi buku yang tertata rapi di rak, pikiran kita akan menjadi relatif lebih luas. Bahkan sebelum membacanya.

Anak-anak yang biasa melihat perpustakaan, ia terdorong untuk akrab dan berteman dengan buku. Buku yang telah dibelinya juga bisa menambah koleksi perpustakaan pribadi atau keluarga.

3. Keteladanan orangtua yang suka membaca

Satu contoh perbuatan lebih ampuh daripada seribu kata-kata. Ini juga berlaku bagi kebiasaan membaca.

Jika kita hanya menyuruh anak membaca, namun ia tidak pernah mendapati kita membaca, bisa jadi ia menilai kita hanya bisa menyuruh. Namun sebaliknya, coba bayangkan saat anak-anak kita sering melihat kita membaca, ia lantas berpikir, membaca itu asyik ya. Buktinya, orangtua saya suka membaca.

Jangan sampai anak-anak kita tidak suka membaca gara-gara tidak pernah melihat kita membaca. Malah tahunya kita hanya suka main HP. Akhirnya ia pun mencontoh apa yang dilihatnya dari kita.

4. Apresiasi saat ia membaca

Di antara kesalahan pendidikan anak dalam keluarga, orangtua sigap memarahi atau menegur anak ketika ia melakukan kesalahan. Namun tidak memberikan apa-apa ketika anak melakukan hal yang benar.

Mari kita ubah. Saat melihat anak membaca, apalagi telah menyelesaikan satu buku, beri ia apresiasi atau hadiah. Tidak harus berupa materi dan tidak harus mahal. Memberikan ciuman kepada anak sembari memuji kebaikannya pun bisa menjadi apresiasi yang sangat berharga bagi anak. “Masya Allah… ayah senang sekali melihat Mas membaca buku seperti ini,” atau kalimat lain yang paling sesuai dengan anak-anak kita.

5. Doakan mereka agar cinta ilmu dan gemar membaca

Ini senjata yang tidak boleh dilupakan. Doakan anak-anak kita. Doakan, doakan. Kita sebenarnya tidak memiliki kuasa apa pun atas mereka. Hati mereka milik Allah. Jiwa mereka milik Allah.

Hanya Allah yang Maha Kuasa membolak-balikkan hati mereka. Hanya Allah yang Maha Kuasa mengubah karakter mereka. Hanya Allah yang Maha Kuasa memperbaiki akhlak mereka. Hanya Allah yang Maha Kuasa memperbaiki minat mereka. Doakan, doakan, doakan. Terus menerus. Insya Allah Dia akan mengabulkan. [Muchlisin BK/Webmuslimah]

SHARE
Artikel sebelumnyaDahsyatnya Pahala dan Keutamaan Sholawat
Artikel berikutnyaJawaban Suami Shalih dan Cerdas Saat Ditantang Tidur dengan Mahasiswi

CEO BedaMedia Grup, Inspirator di Trustco Gresik, Sekretaris Yayasan (Pendidikan) Al Ummah

BERIKAN TANGGAPAN

Please enter your comment!
Please enter your name here