Beranda Ilmu Islam Fiqih Bagian Tubuh Mana Saja yang Boleh Dilihat dari Wanita yang Dikhitbah?

Bagian Tubuh Mana Saja yang Boleh Dilihat dari Wanita yang Dikhitbah?

5

4. Boleh melihat wanita yang dikhitbah tanpa busana

Pendapat keempat ini merupakan pendapat yang paling ‘vulgar’. Seorang laki-laki diperbolehkan melihat seluruh anggota tubuh wanita yang dikhitbahnya. Bahkan boleh baginya melihat wanita yang dikhitbahnya dalam kondisi tanpa busana. Pendapat ini merupakan pendapat Daud Adh Dhahiry.

Lalu dari keempat pendapat tersebut, mana yang lebih mendekati kebenaran? Pendapat pertama yang merupakan pendapat jumhur ulama merupakan pendapat yang paling selamat. Sebab meskipun seorang laki-laki menghitbah seorang wanita, ia tetap merupakan orang lain yang harus menjaga pandangan dari auratnya.

Lalu bagaimana ia bisa melihat apakah wanita calon istrinya tersebut sehat, kulitnya tidak cacat dan sebagainya? Ia bisa meminta seorang perempuan entah ibu, bibi atau saudaranya untuk melihat wanita tersebut. Wallahu a’lam bish shawab. [Webmuslimah.com]

5 KOMENTAR

  1. Tidak terbayang boleh khitbah wanita telanjang…
    madzhab (lebih tepat ijtihad) adh-dhahiri adalah madzhab yang sudah lenyap.
    Dalam ilmu ushul fiqh dikenal para ulama-ulama yang berjtihad dalam merumuskan hukum-hukum fiqh, berikut ini Madzhab-madzhab Ahli Sunnah yang masih berkembang, diantaranya adalah Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal. Dan kita juga perlu untuk mngetahui Madzhab-madzhab Sunni yang telah lenyap diantaranya adalah Madzhab Al- Auza’i, Madzhab Ats- Tsauri, Madzhab Al- Laits, Madzhab Adh- Dhahiri dan Madzhab Ath- Thabari.
    (tarbiyyah-blog.blogspot.co (dot)id/2012/05/ijtihad-imam-adh-dhahiri (dot html)

  2. Mazhab Al-Auza’i, Mazhab Fikih Yang Hilang

    BENCI SEKALI DENGAN QIYAS DALAM FIQIH, Tak Diabadikan, Akhirnya Punah
    Sheikh Muhammad al-Khudhari Bik dalam kitabnya Tarikh al-Tasyri’ al-Islami memberikan sedikit ciri khas yang dimiliki oleh madzhab al-Auza’ie ini, yaitu mereka sangat benci sekali dengan Qiyas dalam fiqih mereka.

    Tak Diabadikan, Akhirnya Punah
    Sayangnya, di pertengahan abad ke-3, madzhab ini perlahan mulai hilang dan ditinggalkan serta tidak ada lagi yang mengamalkan. Salah satu penyebabnya adalah masuknya madzhab Imam al-Syafi’i di awal abad ke-3 ke Syam, yang akhirnya menggerus madzhab al-Auza’ie. Kalau di Andalus, madzhab ini tergerus oleh eksistensinya madzhab al-Malikiyah di pertengahan abad ke-3 tersebut.
    Tapi kalau diteliti lebih dalam, punahnya madzhab ini bukan hanya karena adanya madzhab baru yang datang, tapi kerena memang tidak adanya budaya pelestarian ilmu dengan tulisan yang dilakukan oleh para murid dan pengikut Imam al-Auza’ie. Mereka hanya mengamalkan tanpa mengabadikan.

BERIKAN TANGGAPAN

Please enter your comment!
Please enter your name here