Beranda Ilmu Islam Fiqih Bagian Tubuh Mana Saja yang Boleh Dilihat dari Wanita yang Dikhitbah?

Bagian Tubuh Mana Saja yang Boleh Dilihat dari Wanita yang Dikhitbah?

5

2. Boleh melihat tangan, kaki dan paha

Pendapat kedua menyatakan boleh bagi laki-laki yang mengkhitbah seorang wanita untuk melihat bagian tubuh yang biasa terlihat oleh mahramnya. Yakni selain wajah dan telapak tangan, diperbolehkan pula laki-laki yang mengkhitbah melihat tangan, kaki, lutut dan paha calon istrinya tersebut. Namun tetap tidak diperbolehkan menyentuh dan memegangnya.

Ini merupakan salah satu pendapat Imam Ahmad. Menurut beliau, tidak mengapa bagi seorang laki-laki melihat bagian tubuh calon istrinya yang bisa memikatnya untuk menikahi wanita tersebut seperti tangan atau lainnya.

“Imam Ahmad menyatakan laki-laki boleh melihat wanita yang ingin dinikahinya pada bagian-bagian tubuh yang termasuk aurat,” kata Ibnul Jauzi, “beliau mengisyaratkan bolehnya melihat lebih dari sekedar wajah.”

5 KOMENTAR

  1. Tidak terbayang boleh khitbah wanita telanjang…
    madzhab (lebih tepat ijtihad) adh-dhahiri adalah madzhab yang sudah lenyap.
    Dalam ilmu ushul fiqh dikenal para ulama-ulama yang berjtihad dalam merumuskan hukum-hukum fiqh, berikut ini Madzhab-madzhab Ahli Sunnah yang masih berkembang, diantaranya adalah Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal. Dan kita juga perlu untuk mngetahui Madzhab-madzhab Sunni yang telah lenyap diantaranya adalah Madzhab Al- Auza’i, Madzhab Ats- Tsauri, Madzhab Al- Laits, Madzhab Adh- Dhahiri dan Madzhab Ath- Thabari.
    (tarbiyyah-blog.blogspot.co (dot)id/2012/05/ijtihad-imam-adh-dhahiri (dot html)

  2. Mazhab Al-Auza’i, Mazhab Fikih Yang Hilang

    BENCI SEKALI DENGAN QIYAS DALAM FIQIH, Tak Diabadikan, Akhirnya Punah
    Sheikh Muhammad al-Khudhari Bik dalam kitabnya Tarikh al-Tasyri’ al-Islami memberikan sedikit ciri khas yang dimiliki oleh madzhab al-Auza’ie ini, yaitu mereka sangat benci sekali dengan Qiyas dalam fiqih mereka.

    Tak Diabadikan, Akhirnya Punah
    Sayangnya, di pertengahan abad ke-3, madzhab ini perlahan mulai hilang dan ditinggalkan serta tidak ada lagi yang mengamalkan. Salah satu penyebabnya adalah masuknya madzhab Imam al-Syafi’i di awal abad ke-3 ke Syam, yang akhirnya menggerus madzhab al-Auza’ie. Kalau di Andalus, madzhab ini tergerus oleh eksistensinya madzhab al-Malikiyah di pertengahan abad ke-3 tersebut.
    Tapi kalau diteliti lebih dalam, punahnya madzhab ini bukan hanya karena adanya madzhab baru yang datang, tapi kerena memang tidak adanya budaya pelestarian ilmu dengan tulisan yang dilakukan oleh para murid dan pengikut Imam al-Auza’ie. Mereka hanya mengamalkan tanpa mengabadikan.

BERIKAN TANGGAPAN

Please enter your comment!
Please enter your name here