Beranda Hadits Syarah Hadits Keutamaan Pergi ke Masjid dan Shalat Berjamaah

Keutamaan Pergi ke Masjid dan Shalat Berjamaah

2
Keutamaan pergi ke masjid dan shalat berjamaah
Shalat jamaah © menit.tv
Keutamaan pergi ke masjid dan shalat berjamaah
Shalat jamaah © menit.tv

عن أبي هريرةَ – رضي الله عنه – ، قَالَ : قالَ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – صَلاةُ الرَّجلِ في جمَاعَةٍ تَزيدُ عَلَى صَلاتهِ في سُوقِهِ وبيتهِ بضْعاً وعِشرِينَ دَرَجَةً ، وَذَلِكَ أنَّ أَحدَهُمْ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الوُضوءَ ، ثُمَّ أَتَى المَسْجِدَ لا يُرِيدُ إلاَّ الصَّلاةَ ، لاَ يَنْهَزُهُ إِلاَّ الصَلاةُ : لَمْ يَخْطُ خُطْوَةً إِلاَّ رُفِعَ لَهُ بِهَا دَرجَةٌ ، وَحُطَّ عَنْهُ بها خَطِيئَةٌ حَتَّى يَدْخُلَ المَسْجِدَ ، فإِذا دَخَلَ المَسْجِدَ كَانَ في الصَّلاةِ مَا كَانَتِ الصَّلاةُ هِي تَحْبِسُهُ ، وَالمَلائِكَةُ يُصَلُّونَ عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ في مَجْلِسِهِ الَّذِي صَلَّى فِيهِ ، يَقُولُونَ : اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ ، اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيهِ ، مَا لَم يُؤْذِ فيه ، مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Shalat seorang laki-laki secara berjama’ah, lebih baik dua puluh derajat dibandingkan shalat yang dilakukannya di pasar dan rumah. Sebab jika seseorang melakukan wudhu dengan sempurna kemudian mendatangi masjid hanya untuk shalat, maka pada setiap langkahnya ia ditinggikan satu derajat dan kesalahannya diampuni, hingga ia masuk masjid. Jika ia telah masuk masjid, ia diberi pahala sebagaimana orang yang melakukan shalat selama ia menanti shalat. Dan malaikat bershalawat untuknya selama ia berada di masjid tersebut. Malaikat itu berdoa: “Ya Allah, rahmatilah dia, ampunilah dia, terimalah taubatnya.” (Doa tersebut terus dibaca malaikat) selama orang tersebut tidak menyakiti orang lain dan tidak berhadats. (Muttafaq ‘alaih)

Hadits ini adalah hadits ke-10 dalam Riyadhush Shalihin, Kitab Ikhas dan Urgensi Niat. Keterkaitan dengan keikhlasan, seluruh keutamaan dalam hadits ini bisa didapatkan ketika dilandasi dengan niat yang ikhlas. “Laa yanhazuuhu illash shalah,” tidaklah niatnya datang ke masjid kecuali untuk shalat. Bukan karena ingin dipuji orang, bukan karena ingin mendapatkan hadiah –misalnya- seperti yang diadakan oleh Provinsi Bengkulu pada Februari lalu.

Hadits ini juga menjelaskan keutamaan shalat berjamaah bagi laki-laki. Dan idealnya memang laki-laki itu menunaikan shalat fardhu secara berjama’ah. Sedangkan bagi para muslimah, yang lebih utama adalah shalat di rumah. Meskipun, shalat berjamaah di masjid juga diijinkan.

Rasulullah bersabda,

لاَ تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ

“Janganlah kalian melarang istri-istri kalian untuk ke masjid, namun shalat di rumah mereka (para wanita) adalah lebih baik.” (HR. Abu Daud; shahih)

Keutamaan shalat berjama’ah bagi laki-laki, disebutkan dalam hadits ini dua puluh-an derajat. Dalam hadits lain kadang disebutkan “khamsin wa isyriin” (dua puluh lima), kadang disebutkan “sab’in wa isyriin” (dua puluh tujuh) derajat. Kita ini ingin derajat mulia di sisi Allah atau di sisi manusia? Jika kita ingin derajat mulia di sisi Allah, maka salah satu kuncinya dalah shalat berjama’ah. Istri yang ingin suaminya memiliki derajat mulia di sisi Allah, maka ia perlu mendorong suaminya agar rajin shalat berjama’ah. Dan yang disebut shalat berjama’ah ini adalah di masjid. Bukan di rumah. Sementara ini ada pemahaman yang keliru dari sebagian orang yang mengatakan, “saya shalat berjama’ah bersama keluarga di rumah.” Padahal, yang dimaksud shalat berjama’ah dalam hadits ini dan sejenisnya adalah shalat berjama’ah di masjid atau mushala.

Mari kita sedikit berhitung soal derajat, dan bagaimana umat Rasulullah Muhammad bisa lebih tinggi derajatnya daripada umat sebelumnya, meskipun hidupnya lebih singkat. Usia umat Muhammad katakanlah rata-rata 63 tahun. Terpotong masa sebelum baligh 13 tahun, maka tinggallah usianya 50 tahun. Jika ia hanya shalat sendirian, maka pahalanya 50 tahun. Jika ia rutin shalat berjamaah sekali sehari dan yang lainnya shalat sendirian, maka –dengan mengambil yang tengah dalam hadits yakni 25 derajat- pahalanya setara 290 tahun. Jika ia rutin dua kali berjamaah dalam sehari, maka pahalanya setara 530 tahun. Jika ia rutin tiga kali berjamaah dalam sehari, maka pahalanya setara 770 tahun. Jika ia rutin empat kali berjamaah dalam sehari, maka pahalanya setara 1010 tahun. Maka, ia bisa lebih baik daripada umat Nabi Nuh yang usianya 950 tahun.

“Idzaa tawadhdha’a fa ahsanal wudhuu’ tsumma atal masjid” mengisyaratkan bahwa yang lebih baik itu berwudhu di rumah. Jadi ketika ia berjalan ke masjid itu sudah dalam kondisi berwudhu. Di masjid tidak perlu lagi berwudhu kecuali kalau batal. Dan dalam hadits ini juga disebutkan, keutamaan datang ke masjid itu dinilai per satuan langkah. Maka, jika masjidnya dekat, lebih baik berjalan kaki daripada naik kendaraan.

Ketika seseorang menunggu shalat di masjid, ia mendapatkan pahala shalat selama itu. Baik menunggunya di awal, atau menunggu shalat berikutnya. Jadi datang ke masjid sebelum qamat bahkan sebelum adzan itu luar biasa pahalanya.

“Wal malaaikatu yushalluun”. Malaikat bershalawat, maksudnya adalah malaikat mendoakan. Shalawat itu ada tiga; shalawat Allah (kepada Nabi), maksudnya adalah merahmati. Shalawat malaikat artinya adalah malaikat mendoakan. Dan yang ketiga adalah shalawat dari orang-orang yang beriman. Nah, untuk orang-orang yang shalat berjamaah di masjid, selama ia masih di masjid dan tidak mengganggu atau menyakiti orang lain dan selama ia tidak berhadats, maka selama itu pula malaikat mendoakan sebagaimana doa pada kalimat berikutnya: memohon agar Allah merahmati orang tersebut, mengampuninya, serta menerima taubatnya. Wallahu a’lam bish shawab. [Disarikan dari Pengajian Riyadhus Shalihin Ustadz Rofiul Fata, M.Pd.I]

Artikel sebelumnyaWalimah Menghambat Nikah dan Bikin Susah?
Artikel berikutnyaSuami Selingkuh, Istri Harus Bagaimana
Dewan pengawas Kotak Amal Indonesia, Dai Ikadi, Pengasuh Kajian Riyadhus Shalihin MIC Gresik

2 KOMENTAR

  1. Assalamualaikum..
    maaf saya hanya ingin bertanya, apabila saya sebagai seorang istri yg hanya tinggal berdua dengan sang suami, dan suami pergi ke mesjid untuk melaksanakan sholat berjamaah, apakah saya selalu tidak bisa untuk sholat berjamaah dikarenakan tidak ada imam? apakah saya boleh setiap saat untuk ikut suami datang ke mesjid untuk menunaikan sholat berjamaah? apakah lebih baik saya sholat sendiri dirumah?

BERIKAN TANGGAPAN

Please enter your comment!
Please enter your name here