Home Munakahat Pranikah Calon Mertua Tak Setuju Pernikahan, Bagaimana Solusinya?

Calon Mertua Tak Setuju Pernikahan, Bagaimana Solusinya?

39364
9
SHARE

Assalamualaikum ya akhi dan ukhti redaksi webmuslimah..

Saya Nisa dari Cilacap, Jawa Tengah, Umur saya 25th. Langsung saja, saya ingin menanyakan, bagaimana hukumnya menjalin hubungan akan tetapi terbentur permasalahan karena saya dan pasangan saya berbeda suku. Saya ingin bercerita sedikit, mengenai hal ini, karena saya masih terlalu awam dalam mengkaji ilmu-ilmu Islam.

Saya dan pasangan saya (Rijal), pertama kali dikenalkan oleh teman sekerjaan saya. Dari awal teman saya sudah berkata, “Mba, mau engga di kenalkan dengan laki-laki, dia ilmu agamanya bagus, rajin sholat, pokoknya dia laki-laki yang insya Allah baik, tapi dia punya sifat pemalu dan minderan. Dan maaf, dia termasuk orang yang tidak mampu. Saat ini dia memang sedang tidak kerja, tapi dia sedang ikut khursus bahasa Korea, karena dia ingin memperbaiki keuangan keluarganya dan insya Allah ingin mencari rejeki di sana. Bagaimana mba, apa mba mau di kenalkan dengan beliau?”. Awalnya, saya ragu, karena pasti keluarga saya akan mempermasalahkan ini. Tapi seiring berjalannya waktu, saya memantapkan hati untuk mengenal beliau bukan karena siapa dia, tapi karena agamanya.

Kemudian saya setuju untuk mengenal dia, perkenalan kami dimulai dari BBM. Kami tinggal di satu kota yang sama, yaitu di kota Cilacap. Setelah mengenal satu sama lain, ternyata dia termasuk orang yang suka bercanda. Dan pada akhirnya setelah 1,5 bulan kami kenal, teman kami mempertemukan kami di sekitar tempat kerja saya. Dan komunikasi kami berjalan sampai pada akhirnya, kami dipertemukan di pertemuan kedua sebulan kemudian. Pada pertemuan kedua, saya mengungkapkan kepada beliau bahwa saya punya keturunan orang Padang dari ibu saya, karena ibu saya orang Padang, sedangkan ayah saya adalah orang Jawa. Dan beliau pun tidak mempermasalahkan itu.

Komunikasi kami pernah diisi dengan kesalahpahaman, bercanda, saling mendukung aktivitas kami masing-masing. Dan selang 1 bulan dari pertemuan kita yang kedua, kami bertemu kembali, dan kita mulai terbuka untuk mengenal satu sama lain, terutama ingin mengetahui tentang keluarga kita masing-masing. Kami berdua sama-sama yatim. Dia anak ke 6 dari 12 bersaudara, dan saya anak ke 5 dari 5 bersaudara.

Setelah pertemuan kami yang ketiga, kami saling memantapkan untuk menjalin hubungan yang serius untuk membina keluarga. Selang beberapa minggu, beliau menyatakan ingin serius menjalin silaturahmi dengan saya dan keluarga. Akan tetapi dia masih merasa malu dan minder untuk bertemu dengan ibu saya, karena takut ditanyai mengenai pekerjaannya. Padahal dari awal saya mengenal beliau saya sudah bercerita tentang beliau ke ibu saya, jadi ibu saya sudah mengerti dan memahami akan posisi beliau. Ibu saya hanya ingin tahu, sosok laki-laki yang bagaimana yang sedang dekat dengan anaknya. Tapi beliau berfikiran bahwa, “sepertinya aku belum pantas untuk bertemu ibu kamu, jangan berfikiran negatif dulu, nanti akan ada waktunya aku akan menemui ibu kamu, aku malu, aku orang miskin dan belum punya pekerjaan.”

Sampai pada akhirya, ujian untuk ketenagaan kerja yang ke Korea pun berlangusng. Dan tiada henti di setiap doa saya, terselip doa untuk beliau. Sampai pada akhirnya, satu hari sebelum hasil pengumuman beliau mengabari saya, hari itu benar-benar membuat hati saya sedih. Beliau berkata, “Maafkan aku yang kurang peduli terhadapmu beberapa hari terakhir, aku mau menyampaikan sesuatu, tapi aku harus bilang karena pada akhirnya kamu akan tahu. Aku takut ketika, kita menjalin hubungan, dan aku sudah berangkat jauh meninggalkan kamu, kita menjalankan hubungan komunikasi jarak jauh, aku takut, kita sudah lama saling kenal dan dekat akan tetapi aku dan kamu tidak berjodoh.”

Lalu aku pun menjawab, “Apa kamu sayang aku? apa kamu mau serius ngejalin hubungan ini?”
dan dia pun menjawab, “Iya, insya Allah aku sayang kamu, dan insya Allah aku ingin hubungan ini jauh lebih serius. Akan tetapi bukan masalah ini saja, bahwa ibu dan keluarga kurang menyetujui hubungan kita.”

Aku bertanya, “Boleh aku tau apa alasannya?”
Beliau menjawab, “Ibu dan keluarga aku, kurang setuju, jika aku dapat orang Padang.”
Aku bertanya, “Kenapa? dan apa alasannya?”
Dia menjawab, “Entah apa yang ada di fikiran mereka, aku sudah menceritakan kamu seperti apa ke keluarga, aku benar-benar minta maaf atas sikap keluarga aku, rasanya aku sudah ingin pergi jauh saja, rasanya sudah tidak ingin tinggal di sini.”

Seiring berjalannya waktu, aku tetap mendukung dia, dan pada hari dimana pengumuman hasil ujian ke Korea itu keluar, aku masih berusaha untuk mendukung dia. Dan ternyata dia tidak lulus. Dia semakin terpuruk, karena hubungan kami tidak mendapat restu, ditambah beliau tidak lulus ujian ke Korea, kerja keras dia selama ini sia-sia, selama satu tahun dia tidak bekerja demi pekerjaan ini. Pada awalnya, aku merasa kenapa dia begitu takabur atas perkataan dia sebelumnya mengenai hubungan ini. Dan aku juga pernah bilang ke dia sebelumnya, bahwa apa pun hasilnya, kamu harus tetap sabar, mungkin ini jalan terbaik yang Allah kasih untuk kamu. Sekeras apapun kamu berusaha, seandainya Allah berkehendak lain, maka kamu tidak akan mendapatkannya, jadi pasrahkan dan ikhlaskan saja.

Dia merasa sangat terpuruk sampai ada niatan untuk bunuh diri, akan tetapi aku terus berusaha untuk menenangkan pikiran dan perasaan dia. Ini benar-benar cobaan di bulan puasa bagi saya dan dia. Aku terus mencari referensi mengenai apa salah menikah antara beda suku? Aku selalu berkata, “Bisakah keluarga kamu tidak menilai siapa kami berdasarkan dari mana kami berasal? Bolehkan aku mengenal keluarga kamu dan kamu mengenal keluarga aku, agar masing-masing di antara kita mengetahui seluk beluk keluarga kita bukan dari kata orang di luar sana? Apa salah aku dan keluarga aku?..”

Aku ingin sekali menunjukan kekeluarga dia, bahwa Insya Allah aku ingin membahagiakan dia. Aku ingin sekali menepis kabar tidak baik mengenai tidak semua orang Padang itu tabiatnya sama. Aku ingin sekali meyakinkan dia, dan dia juga bisa meyakinkan keluarganya. Tapi dia begitu takut, hal ini terjadi lagi, ketika sebelumnya dia dekat dengan orang sunda, dan sudah berusaha untuk meyakinkan keluarga akan tetapi sia-sia. Prinsip dia, “aku belum pernah membawa wanita ke rumah, kecuali aku mau nikah dengan wanita tersebut”. Aku tersadar, bahwa prinsip dia adalah salah, bagaimana keluarganya tahu siapa pasangannya, sifat sikapnya seperti apa, sedangkan untuk mengenalkan saja tidak mau.

Salahkah sikap saya terhadap dia? aku masih menjalin silahturahmi dengan dia, aku masih terus meminta pedapat dari orang-orang sekitar, dan teman yang mengalami hal yang sama dengan saya. Intinya adalah “Jika dia cinta kamu, dia akan mempertahankan kamu, dan berusaha untuk terus dan terus meyakinkan keluarganya”. Akan tetapi untuk kesekian kali, dia berkata “Bukankah restu orang tua adalah restu Allah? Biarlah aku sendiri sampai aku tidak tau kapan aku menikah, hanya bisa berharap jika Allah memberi umur panjang untuk aku.”

Dan saat ini beliau begitu menjauh dari saya, setiap saya tanya baik-baik, dia terkadang emosi, saya tidak tahu apa kah dia berharap supaya saya benci dia dengan sikap dia seperti itu. Sepertinya dia melakukan ini karena keadaan yang membuat kita seperti ini. Apa yang harus saya lakukan, ketika dibenci, saya tidak ingin membalas membenci, karena saya sayang dia. Sampai saat ini pun, setiap di ajak ketemu susah, karena dia sengaja membuat hubungan kita menajdi tidak baik. Saya hanya bisa berdoa, berharap diberi kesabaran, keikhlasan dalam menghadapi ini semua dan harus percaya kepada Allah. Salahkah, jika niat kita meluluhkan hati orang tua, apakah itu termasuk dosa durhaka terhadap orang tua? Apa yang harus saya lakukan? Saya berusaha menerima dia apa adanya, karena rezeki bisa dicari bersama, kebahagian bukanlah diukur oleh harta, tapi beliau selalu berkata jika dia tidak pantas untukku dan takut tidak bisa membahagiakan saya nantinya.

Saya benar-benar membutuhkan kritik dan saran, dari akhi dan ukhti wemuslimah, sekiranya akhi dan ukhti mau merespon surat dari saya. begitu besar harapan saya agar surat ini dibalas secepatnya.

Terima Kasih
Wassalamualaikum

JAWABAN

Wa’alaikum salam warahmatullah

Ukhti Nisa yang dirahmati Allah,
Kami berdoa agar Anda selalu dalam lindungan Allah dan bersabar dengan ujian dariNya. Siapa yang bersabar, Allah akan membersamainya dan memberikan pahala tanpa batas.

Dalam Islam, tidak ada larangan pernikahan beda suku. Memang ada pertimbangan orang memilih istri atau mertua memilih menantu berdasarkan harta, kedudukan dan kecantikan. Namun Rasulullah memberikan rambu-rambu, bahwa memilih istri yang baik itu berdasarkan agamanya. Jika seorang suami memilih istri atas dasar agamanya, insya Allah kehidupannya akan barakah dan ia akan beruntung karena istrinya adalah istri yang shalihah.

تُنْكَحُ المَرْأةُ لِأَرْبَعٍ: لمِالِهَا، وَلِحَسَبِهَا، وَلِجَمَالِهَا، وَلِدِيْنِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكْ

“Seorang perempuan dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, (atau) karena agamanya. Pilihlah yang beragama, maka kau akan beruntung”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Bahkan, menikahkan anak berdasarkan keturunan (termasuk suku) adalah kebiasaan jahiliyah seperti dikatakan oleh seorang tabi’in bernama Mubarak. “Dulu, orang-orang jahiliyah menikahkan putrinya atas dasar keturunan. Orang-orang Yahudi menikahkan putrinya atas dasar harta dan kekayaan. Orang-orang Nasrani menikahkan putrinya atas dasar ketampanan. Maka sudah selayaknya orang-orang Muslim menikahkan putrinya atas dasar agama.”

Lalu bagaimana jika orang tua tidak menyetujui pernikahan beda suku? Hal pertama yang perlu disadari adalah, ridha orang tua merupakan kunci ridha Allah.

رِضَا الرَّبِّ فِى رِضَا الْوَالِدِ وَسَخَطُ الرَّبِّ فِى سَخَطِ الْوَالِدِ

“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.” (HR. Tirmidzi; shahih)

Maka yang baik dan ideal, jika orang tua belum menyetujui pernikahan, hendaknya sang anak mendekati orang tua-nya, merayu dan meyakinkan mereka agar menyetujui. Sering kali, orang tua yang sebelumnya keberatan dengan pernikahan anaknya, akhirnya setuju setelah komunikasi intens anak dengan orang tuanya dan setelah orang tua melihat kesungguhan anak dan yakin dengan keputusannya.

Bagi anak perempuan, ridha orang tua adalah hal yang tak bisa ditawar. Sebab, orang tua (wali) menjadi rukun nikah. Seorang gadis tidak boleh menikah tanpa persetujuan atau restu orang tua (wali)-nya, kecuali jika orang tua (wali)-nya menolak pernikahan tanpa alasan yang dibenarkan syariat, baru diperbolehkan gadis tersebut memakai wali hakim. Tetapi persoalan ini tidak sesederhana itu.

Sedangkan bagi anak laki-laki, meskipun orang tua (wali) bukanlah rukun nikah, tetap saja menjadi pertimbangan besar dalam pernikahan. Sebab sejatinya pernikahan bukanlah menyatukan dua orang, tetapi menyatukan dua keluarga.

Dalam kasus Anda, solusi yang bisa ditempuh adalah calon suami Anda minta restu orang tuanya dengan lebih komunikatif dan mendekati orang tuanya. Anda bisa membantunya dengan doa. Sebab masalah hati adalah kekuasaan Allah. Allah yang maha membolak-balikkan hati, Allah yang menguasai hati. Maka Allah-lah satu-satunya yang kuasa mengubah hati orang tuanya.

Namun jika segala upaya telah dilakukan, segala ikhtiar telah ditempuh, dan pria yang Anda inginkan justru lari menjauh, sebaiknya Anda mengikhlaskannya. Mungkin Allah menunjukkan bahwa ia bukanlah jodoh Anda dan Allah akan mempertemukan Anda dengan jodoh yang lebih baik dan lebih kuat; lebih kuat posisinya dalam keluarga, lebih kuat komunikasinya, lebih kuat kedekatannya dengan orang tua dan lebih kuat menanggung tanggung jawab nantinya sebagai kepala keluarga.

Saran kami, jangan mencintai seseorang yang tidak bisa menikah dengan Anda. Sebab hal itu hanya akan mengeruhkan hati dan mengganggu kedamaian jiwa.

Yang juga perlu dipahami oleh setiap muslim dan muslimah, dalam Islam tidak ada yang namanya pacaran. Sebab mudharatnya banyak. Pacaran bisa menjadi sarana mendekati zina, sebab dalam pacaran kebanyakan aktifitasnya khalwat (berduaan), saling menyentuh bahkan saling memegang dan seterusnya. Pacaran juga membuat hati mencintai seseorang dengan cinta dan harapan yang besar, padahal belum tentu pacar tersebut menikah dengannya.

Dalam Islam, pernikahan cukup dengan ta’aruf atau nadhar. Jika seorang pria memiliki keinginan menikah dengan seorang wanita, maka ia datang kepada orang tua (wali)-nya menyatakan keinginannya. Bisa juga dengan perantaraan guru atau ustadz. Setelah itu pria dan wanita tersebut dipertemukan untuk dapat melihat wajahnya dan mengetahui latar belakangnya. Jika keduanya berketetapan hati untuk menikah, sang pria meng-khitbah (melamarnya) dan kemudian menikah. Bagaimana jika wanita yang berkeinginan menikah dengan seorang laki-laki? Hal itu juga pernah terjadi di zaman Rasulullah. Maka wanita tersebut menyampaikan kepada orang tua (wali)-nya, dan walinya tersebut yang meminta pria dimaksud apakah bersedia menikah dengannya.

Semoga jawaban singkat ini menjadi bagian dari solusi. Dan sekali lagi, bersabarlah atas ujian dari Allah. Ketika hambaNya lulus dari ujianNya, Dia akan menghadirkan akhir yang baik dan solusi terindah yang kadang tak pernah disangka-sangka. Wallahu a’lam bish shawab. [Tim Redaksi Kisahkmah.com]

9 KOMENTAR

  1. Saya agung. Saya mo cerita keadaan saya saat ini, saya menjalanin hubungan hampir dua tahun dngan seorang perempuan,dan orang tua perempuan gak setuju dengan saya atas dasar gak sekufu harta,a,saya pengen menjalanin hubungan rumah tangga dengan dia bukan karna harta,a tapi aku kasian dengan keluarga,a dalam berIslam ibu,a gak pernah sholat sewaktupun padahal masih muda,cuma harta yang selalu dicari,aku priatin dan aku ingin melurusjan jalan yang benar,apakah aku salah

  2. dari ceritanya si cowo gak niat buat serius, kata-kata serius buat nikahin si wanita hanya RAYUAN semata. hanya Pria Serius yang mengenalkan wanita kerumah (orang tua)
    kalo si pria gak ngenalin anda ke orangtuanya berarti dia gak serius. menurut saya itu sudah cukup membuktikan bahwa dia tidak niat menikahi anda..
    itu dasarnya dia tidak NIAT dan semua kata-kata dia sesudah itu hanya TOPENG dan hanya Skenario yang dipasang untuk membingkai topeng tersebut ..
    mungkin anda buta akan cinta dan terjabak dalam imajinasi perasaan yang dia buat dengan skenario berlatar AGAMA. Hati-hati dengan agama karena AL-QURAN dan AL-HADIST. mudah sekali disalah artikan oleh orang-orang yg tidak amanah. membelokan arti demi kepentingan pribadi..

    • iya bner bgt tuch mas agung. agama malh disalah artikan oleh sebagian orang. ya seperti mantan ku yang dulu sampe bilng SUMPAH DEMI ALLAH aku tidak akan ninggalin kamu apapun yang terjadi, eh buktinya saya sudah percya tapi di saat hubngn sudah 5 thun dia mnta putus, alasan tekanan dari orang tua ktnya, tp saya kurang yqn akan hal itu, sampe aku nyumpahin biar dia ngerasain ap yng kurasain pada saat di putusin, biar semua usahanya gagal.
      tp aku sadr bhwa cara saya ini salah, dan hrusnya saya harus bersikap baik meskipun dia jahat kepada saya.

  3. saya berusia 21 thun,saya sudah hubungan slama 5 thun bersama pasangan saya. saya mempunyai masalah krena cinta saya dan pasangan saya tidak direstui oleh orang tua pasangan. oleh karena tidak adanya restu maka pasangan saya memutuskan hubungan dengan saya, akhirnya kita PUTUS hubungan yang sudah terjalin selama 5 thun. 5 thun itu bkn waktu yng singkt, bnyak kenangan yg qt lalui bersama. aku sangan sulit sekali buat move on. alasannya sih ktnya ortu pasangn tidak setuju karena saya belum bisa memakai hijab dengan sempurna, tp aku yakin selain alasan tersebut adanya pihak ketiga. katnya dia saya nda pernh serius hubngan. ya jelas lah pacaran mulai umur 16 tahun, kan masih masa-masa sekolah tp setelah umur 20 saya mulai kepikiran buat persiapan merried. tp sekarang justru dia yang nda serius.kayanya hub begitu banyak cobaan yang ku alami, alasan saya blum bisa move on karena pasangn saya dulu pernah berjanji tidak akan meninggalkan saya. bahkan dia berkata sekalipun aku gila dan semisal saya sudah tidak perawan lagi, dia akan tetap menerima saya.. alhamdullillh si saya tidak gila dan masih perawan, tp katanya tekanan dari ortu yang membuat pasangan saya ini tidak kuat untuk mempertahankan hubungan yang selama ini kita jalani. padahal saya sudah bilang saya akan belajr lebih baik dan menuruti apa yang di inginkan oleh orang tua pasanagn, tp pasanagn saya bilang sampe kapan pun ortu nda bakal ngasih restu buat hub kita. yang bikin ku kesel lagi, pasanagn pura pura sibuk tentang usaha yang akan di bangunnya, sangking keselnya gue sumpahain nda bakal sukses usaha tersebut. itu karena faktor emosi, keesokan harinya saya sms mnta mf, dan dia lz, saya nangis terharu atas kata-katamu tadi. aku berusaha untuk tegar dan nerima kenyataan, tp saya blum bisa cari pngganti dia, sampe akhirnya saya mikir pengen jadian sama tetangga pasangan saya yg dulu pernah nembak saya waktu smp. tp sayangnya dia sudah pnya pacar sekang, apalagi pacarnya lebih cantik,,
    apakan sebuah penampilan bisa dijadikan alasan untuk menilai seseorang? ktnya lo cewe blum pke kerudung sering dikategorikan cewe nakal. padhl menurt saya tidak begitu, itulah anggapan orang desa yang hany memandang sebelah saja, saya juga sudah punya keniatan tp bukan sekarng ini, krena saya blum siap. mohon pendapat, saran dan doa bagaimana supaya ortu pasangan lah yang menyuruh anaknya untuk kembali berhubungan dengan saya,

  4. Assalamualaikum, saya perempuan berusia 22 tahun, saya sudah memiliki calon imam yang mantap untuk masa depan saya, tetapi keluarga saya tidak setuju alasan karena dia hanya sopir bank keluarga saya menginginkan PNS utk menjadi suami saya,sedangkan dari keluarga calon imam saya keluarga nya belum siap utk menikahkan lantaran karena hutang banyak sampai ratusan juta, sehingga saya ragu karena gaji calon imam saya jadi penutup hutang hingga 3 th kedepan dan saya belum punya pekerjaan. Kami sudah siap menikah utk menghindari zina, namun restu belum di dapatkan? Kira2 solusinya gimana ya ukhti

  5. […] Bahkan, menikahkan anak berdasarkan keturunan (termasuk suku) adalah kebiasaan jahiliyah seperti dikatakan oleh seorang tabi’in bernama Mubarak. “Dulu, orang-orang jahiliyah menikahkan putrinya atas dasar keturunan. Orang-orang Yahudi menikahkan putrinya atas dasar harta dan kekayaan. Orang-orang Nasrani menikahkan putrinya atas dasar ketampanan. Maka sudah selayaknya orang-orang Muslim menikahkan putrinya atas dasar agama.” – Sumber: webmushlimah […]

  6. Assalamualikum wr.wb. Saya perempuan berusia 22thn, saya sedang dekat dengan seseorang pria dan insyallah saya sudah mantapkan hati saya kepada pria tersebut. di awal komitment kita sudah mempunyai tujuan yang sama yaitu sebuah pernikahan. namun berjalannya waktu dalam menuju tujuan kami tersebut, kami menemukan beberapa rintangan. diantaranya adalah kurangnya restu dari keluarga pria pilihanku ini, dikarenakan pria tersebut adalah keponakan dari nenekku dari ibu. apakah dalam islam hubungan kami ini dibolehkan? dan gimana solusinya untuk meyakinkan keluarga kami berdua? mohon bantu kritik dan sarannya. walaikumsalam wr.wb

  7. asalammualaikum,
    saya wanita berusia 23tahun.dan saya adalah seorang janda.setelah setahun menjanda saya menikah dengan seorang pria yg ber istri.saya jadi istri ke 2nya.
    istri pertama dr suami saya mengetahui pernikahan kami,dan dia menerima walau saya tau pasti hati nya terluka,tapi istri pertama suami saya adalah orang yg sangat berhati mulia,dia bisa menerima saya dengan lapang dada,akan tetapi! orang tua dari suami saya sangat menentang dan tidak merestui pernikahan kami,mereka menyuruh suami saya untuk meninggalkan saya,tetapi suami saya tidak mau,karna saya sudah menjadi istri nya mana mungkin di tinggalkan sedangkan saya tidak melakukan kesalahan.ayah mertua saya adalah se orang ulama,dan beliau sangat tidak suka dengan saya,beliau malah menyuruh suami saya buat menceraikan saya,beliau tidak ingin nama nya tercoreng karna pernikahan kami.beliau sangat menjaga kehormatan nya.beliau menyuruh suami saya untuk menceraikan saya hanya karna masa lalu saya,saya di usir dari rumah suami saya oleh mertua saya melalui pesan singakat di hp suami saya,sedih rasanya..saya kan menantu nya juga,kenapa saya di perlakukan seperti ini???dan suami saya pun membawa saya pergi lalu kami mengontrak sebuah rumah,akan tetapi mertua saya tetap saja ingin kami berpisah.beliau trus saja meminta suami saya untuk meninggalkan saya,sementara kami salaing mencintai.dan suami saya tidak mau menceraikan saya.segala upaya dilakukan mertua saya agar kami susah,sampai” menutup semua peluang kerja buat suami saya.agar suami saya tidak bisa menafkahi saya,sampai” beliau mengusir suami saya dari rumah nya jika tetap bersama saya.beliau menyuruh suami saya pergi dan meninggalkan semua harta nya jika tetap ingin bersama saya,tapi suami saya tidak perduli,dy tetap mempertahankan kan saya.karna menurut suami saya,saya adalah istrinya tanggung jawab nya,mana mungkin saya ditinggalkan,sementara saya tidak melakukan kesalahan.tp saya sedih,jika suami saya pergi dr rumah nya,sudah pasti dy meninggalkan istrinya karna gak mungkin ikut dengan situasi kami yg gak menentu seperti ini,istrinya pun sakit sakitan.takut nya malah menderita jika ikut kami,…bagai mana solusi dari masalah saya ini???
    saya sedih…saya sanggup hidup dalam keadaan apa saja asal saya tetap bersama suami saya,tp istrinya sakit,jika ikut dengan kami dia akan sengsara karna kehidupan kami yg gk menentu,buat makan pun belum tau kayak mana,tp jika dia tinggal dia mendapat kasih sayang dan perhatian dari mertua nya.dia terjamin hidup nya dan tidak akan susah.
    tapi saya takut suami saya jadi anak durhaka karna tidak mendengarkan orang tua nya.
    apa yg harus saya lakukan???
    saya buntu
    saya gak tau harus berbuat apa agar saya bisa di terima oleh mertua saya,saya tidak masalah kalau saya tidak di anggap atau tidak di perdulikan yg penting jangan pernah pisahkan saya dan suami saya…
    apa ada cara nya???
    saya takut,takut kehilangan suami yang sangat saya cintai😥😥😥😥😥

BERIKAN TANGGAPAN

Please enter your comment!
Please enter your name here