Beranda Keluarga Munakahat Menikah Harus Sekufu? Apa itu Kufu?

Menikah Harus Sekufu? Apa itu Kufu?

17

ilustrasi sekufu
ilustrasi sekufu © agusmedia.com

Kufu dalam Kecantikan dan Ketampanan?

Ada pula yang mengira bahwa sekufu itu artinya perempuan cantik haruslah dapat laki-laki tampan, laki-laki tampan hanya sekufu dengan wanita cantik. Benarkah demikian?

Rasulullah adalah orang yang paling tampan. Namun, istri beliau tidak semuanya cantik. Mayoritas yang beliau nikahi adalah janda-janda tua. Demikian pula pernikahan sahabat. Tidak semuanya yang tampan ketemu dengan yang cantik. Dan tidak semua yang cantik kemudian beroleh yang tampan. Misalnya Fathimah binti Qais dengan Usamah bin Zaid. Fathimah adalah seorang wanita yang cantik, dari keluarga terhormat dan kaya raya. Sedangkan Usamah adalah mantan budak.

Lalu Kufu dalam Apa?

Menurut Imam Malik, ungkapan kafa’ah ini khusus untuk agama. Bahwa orang yang bagus agamanya, ia sekufu dengan pasangan yang bagus pula agamanya. Imam Syafi’i juga mendukung pendapat ini. Bahwa kafa’ah adalah dalam bidang agama, sedangkan harta tidak dimasukkan dalam kategori kafa’ah.

Dalam buku Di Ambang Pernikahan, Mohammad Fauzil Adhim menjelaskan bahwa yang dimaksud agama pada pembahasan kufu di sini bukanlah pengetahuan/kognitif saja. Tetapi lebih dari itu, yang dimaksud kafa’ah adalah keberagamaan; iman taqwa dan akhlaknya.

Jadi, kafa’ah dalam bidang agama yang dimaksud bukanlah tingkat pengetahuan terhadap agama, melainkan pengamalan terhadap agama, terhadap syariat Islam.

Meski demikian, bukan berarti masalah usia, harta dan kedudukan serta kecantikan dan ketampanan diabaikan begitu saja. Sebab kita hidup bersama keluarga besar dan masyarakat. Kita hidup dengan lingkungan dan situasi yang tidak sama dibandingkan dengan lingkungan dan situasi yang dialami oleh para sahabat. Bahkan, ada pula sahabat yang akhirnya bercerai karena ketidakcocokan istri dengan ‘ketampanan suami.’ “Ya Rasulullah,” kata istri Tsabit bin Qais, “aku ingin meminta cerai dari Tsabit bukan karaea aku mencela agamanya dan akhlaknya, akan tetapi aku khawatir diriku menjadi kufur”. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya; “Sanggupkah kamu mengembalikan tanah kebun yang ia berikan kepadamu sebagai mas kawin ketika pernikahanmu dulu?”. Ia menjawab; “Ya, aku sanggup”. Ia pun mengembalikan tanah kebun itu. Rasulullah lalu berkata kepada Tsabit; “Ceraikanlah dia”.

Semoga, bagi yang belum menikah, Allah memudahkan untuk menikah dengan jodoh yang sekufu. Dan yang telah menikah, semoga Allah melanggengkan pernikahan dan memberkahi keluarga Anda. [Tim Redaksi Webmuslimah.com]

17 KOMENTAR

  1. Kenapa saya bertanya seperti itu,sebab banyak pernikahan d tunda atau d batalkan cuma gara2 mahar. Islamkah ini??? Inikah yg d ajarkan nabi muhammad??? TOLONG D JAWAB.

    • ketidak sepakatan mahar? kalau begitu jangan salahkan Nabi Muhammad dong, tentu salahkan pasangannya. disini kan perkaranya karena si perempuan tidak setuju dengan mahar yg diberikan oleh si pria. kenapa sebelumnya tidak disepakati/didiskusikan?karena konteksnya ‘kesepakatan’ dan laki2 pun juga harus memberikan mahar yg sepantasnya. kalau masalah dosa ya bukan kita yg menentukan, tetapi Allah.

    • Itu tergatung pribadi masing2 tp ada 1 hal yg
      sy pernah baca

      1.Pria baik adalah yg memberi mahar paling banyak
      2.Dan wanita baik yg memudahkan maharnya

      Dari quotes tsb saja sdh menunjukan kesepadanan
      Pria bkn bisa semena2 karena ada point 2 tanpa mempedulikan kepantasan mahar yg diberikan
      Karena di dlmnya terdapat kesepadanan dan keikhlasan
      Dari pasangan yg mau menikah tsb

  2. Sebenarnya kufu tersebut sudah disebutkan dalam hadits nabi yang lain, yaitu harta, kerupawanan, keturunan, dan yang paling penting adalah agamanya. Kufu sangat penting dalam keharmonisan keluarga, karena bagaimana bisa rumah tangga akan bahagia jika antara suami dan istri tidak dapat berkomunikasi dengan baik, karena latar belakang keluarga atau keilmuwanan yang berbeda. Namun sekali lagi agama memang pengikat kufu yang paling baik, karena agama merupakan syarat dari kesalehan seseorang.

  3. berkaitan dengan teknis metodologi kajian hadis
    1. abu isa mengatakan hadis ini ghorib hasan
    2. kenapa diambil versi albani yg menghasankannya, sedangakan dedikasi beliau terkait hadis bnyak yg menyangsikan kredibelitas beliau kecuali golongan tertentu

  4. Sepadan jaman sekarang mungkin dinilai dari sudut pandang penilaian wanita & pria tsb terhadap suatu hal
    satu visi atau tidak karena itulah kesepadanan bila membangun rumah tangga tapi beda karena ketimpangan
    pemahaman akan sesuatu pastinya hubungan akan berakhir
    sia-sia

  5. Kalo syarifah dan ahwal apakh bsa menikah jka sinwanitanya ridho? Apakahnitupun termasuk tidak sekufu? Lalu bagaimana jika ayah tidak merestu tapi ibu menyarankan mensegerakan

  6. sekufu itu mwnurut allah bukan pandangan manusianya, klw dia menolak dgn si A krn menurutnya tdk sekufu, kmudian dia menikah dgn si B nah si B inilah sebenarnya jodoh yg diberikan allah yg sekufu ntah dari akidah,sifat dan lain sebagainya hny allah yg tau

BERIKAN TANGGAPAN

Please enter your comment!
Please enter your name here