Beranda Tazkiyah Renungan Cadaver, Membuka Mata Hatiku

Cadaver, Membuka Mata Hatiku

10
ilustrasi muslimah berjilbab (kaskus.co.id)

Saat itu tahun 1989 adalah semester di mana saya harus melakukan praktikum pelajaran anatomi tubuh manusia selama enam bulan. Tidak terbayang sebelumnya kalau ternyata setiap hari selama satu semester saya harus berhadapan dengan mayat yang telah diawetkan, kita biasa menyebut cadaver.

Pelajaran anatomi membuat mahasiswa menjadi faham seluruh anatomi tubuh manusia mulai organ tubuh yang besar sampai pembuluh darah, syaraf serta cabang-cabangnya yang kecil-kecil. Dengan panduan buku anatomi serta dosen pembimbing, seorang mahasiswa diharapkan mampu mengetahui letak, bentuk serta nama-nama setiap bagian tubuh manusia yang sangat rumit itu, apalagi nama-nama yang digunakan memakai bahasa Latin. Saya merasa nyaris putus asa di semester anatomi ini.

Tetapi di sela-sela kesibukanku kuliah, alhamdulillah saya dipertemukan dengan kakak kelas yang mengajak untuk belajar Islam secara menyeluruh. Jadilah setiap Jum’at saya bersama beberapa teman mulai mempelajari Al Qu’an dengan bimbingan seorang Ustadz. Perlahan–lahan saya mulai memahami bahwa Islam itu dipakai mulai bangun tidur sampai mau tidur. Bukan hanya ketika kita mengaji atau shalat saja kita memakai aturan Islam, tetapi 24 jam kita harus berislam.

Sejak saat itu saya mulai berusaha menghubungkan fenomena peristiwa yang saya lihat dan alami dengan Al Qur’an dan puncaknya adalah ketika praktikum pelajaran anatomi. Pagi itu semua mahasiswa sudah rapi dengan jas putih praktikum bersiap memasuki ruang anatomi yang cukup luas itu, aroma khas formalin menusuk hidung dan membuat mata cukup perih. Deg-degan juga pertama kali masuk ruang ini. Ada 10 cadaver yang siap di-’bedah’ oleh mahasiswa fakultas kedoteran dan masing-masing cadaver ditidurkan di meja kayu panjang serta dikelilingi oleh kurang lebih 15 mahasiwa. Saya terus terang gemetar melihat cadaver yang terbujur kaku di meja kayu itu.

Setelah dosen pembimbing menjelaskan tata cara praktikum anatomi, masing-masing mahasiswa memulai mem-’bedah’. Saya termasuk salah satu mahasiswa yang terlambat adaptasi dengan praktikum anatomi ini. Di saat teman-teman sudah memulai praktikum, saya cuma bisa berdiri sambil memandangi cadaver itu, sambil merenung: “Ya Rabb, suatu saat saya juga akan jadi mayat seperti cadaver ini, dan baru benar-benar menyadari ketika sudah mati maka tak satupun yang akan bisa menolong kecuali amal sholeh kita, jangankan kulit mayat tersebut disayat, konon mayat itu juga masih bisa merasakan kesakitan, buktinya ketika kita memandikan jenazah maka harus dengan kelembutan ketika menyentuhnya”.

Sesampai di rumah saya masih merenung tentang nasib cadaver tadi saat praktikum. Saya tidak membayangkan kalau ternyata tiba-tiba Allah SWT mencabut nyawa saya sementara amal shalih belum cukup untuk bekal di akhirat. Hati saya seketika itu juga tersadar dan berjanji akan selalu taat dengan perintah dan larangan Allah SWT.. Alhamdulillah setelah itu saya membulatkan niat untuk menutup aurat. Sekarang sudah genap 26 tahun peristiwa itu berlalu dan masih membekas wajah cadaver yang telah membuka mata hatiku itu. [DwiKap]

Artikel sebelumnyaMemuliakan Tamu, Buah dari Keimanan
Artikel berikutnyaJima’ Tak Boleh Bicara? Ini Pandangan Ahlus Sunnah vs Syiah
Dokter spesialis mata, Owner Klinik Mata Utama, Ibu dari 5 anak

10 KOMENTAR

  1. SUBKHANALLAH!!!!!
    sungguh amat beruntung dia,mendapat hidayah lewat praktek itu.
    Skrg Delaney BUAT MBK YG MENJADI MUSLIMAH DI DUNIA, INSYAALLAH, BAROKAH DUNIA AKHIRAT
    امين

  2. Subhanallah….aku ingin di kelilingi org yg soleh dan solehah…biar paham agama…tuntunlah langkah ini ya allah dlm ridho mu …amin yra

  3. wuiiiiii… umiiii… merinding rasanya. dahsyat bgt. org yg cerdas adalah org yg mampu cpt bljr dr apapun hal yg menghampiri kehidupannya. qt emang ga pernah tau kpn n di mana Titik tolak momentum perubahan qt y mi..

  4. Assalammu’alaikum Wr. Wb.
    Met malam semua….. Kalo kisah diatas pun sebenarnya sudah saya alami sktr thn 1988/1989 silam. Jujur awalnya kita sangat takut dengan namanya Cadaver tsb…. tp demi menuntut ilmu (walau tdk jd spt yg diharapkan), jujur saya akui bahwa Allah SWT MAHA SEMPURNA menciptakan makhluk hidup yg bernama MANUSIA….. Salah satu bukti Kebesaran Allah SWT adalah tubuh yg bernama manusia ini…… Subhanallah…… Maha Suci Allah Dengan Segala Ciptaan Nya…..

  5. saya hanya membayangkan, kasihan sekali mayat2 yg dijadikan cadaver ini. Dimana manusia yg selayaknya ketika mati dikuburkan dgn tata cara yg sdh ada, mayat2 ini malah dijadikan bahan kajian manusia. Na’udzubillaahi min dzaliik, minta dijauhi minta dilindungi dr kematian yg tidak jelas, aamiin…

BERIKAN TANGGAPAN

Please enter your comment!
Please enter your name here